#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-27 “katanya, Socrates.”

Aku ingin bersurat padamu, manusia -manusia disekelilingku. Juga padamu manusia dimasa lalu.
Socrates.

Namanya di kenal oleh semua orang. Termasyur melalui raga insan yang lain. Dia abadi oleh keberadaan manusia-manusia yang mengaku belajar padanya. Dia berada di abad 400 sebelum masehi, tetap hidup sampai saat ini.
Untuk peradaban yang kian hari tak pernah diakhiri. Tuhan telah memperkenalkan kebijaksanaan melalui kehadiran seorang filsuf dari Athena.Yunani. Socrates namanya.

Seseorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki berkelana mencari makna bijaksana, Konon katanya, seorang kawan dari Oracle Delpi menyatakan diri telah mendengar suara gaib. Yang mengatakan bahwa socrates adalah manusia bijaksana tanpa tandingan. Sementara dia sedikitpun tidak pernah merasa itu ada padanya, maka terjadilah pencarian itu. Pencarian jati diri yang justru menemukan bagaimana peranan manusia secara keseluruhan.

Plato. Salah satu murid kecintaannya yang kemudian begitu terpukau atas dialog-dialog sarat makna berulangkali mengagungkan nama tanpa raga itu. Mengabadikan setiap apa hal bijaksana yang terkandung didalam dialog-dialognya.
Dia yang mengatakan ;

bahwa katanya,

Seseorang telah menampar socrates lalu socrates menulis dipipi orang itu
“Seseorang telah menamparku dan ini balasan dariku”

Bahwa katanya,
Seseorang menghina makan socrates yang sedikit maka ia menjawab
“Aku makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”

Bahwa katanya, melalui socrates dia diajarkan untuk lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. Karena itu Tuhan memberinya dua telinga dan hanya satu lidah.

Katanya, tak usah pikirkan gunjingan orang karena belajar diusia tua, tapi malu lah jika harus bodoh saat tua,

Katanya, mencobalah baru bercerita, pahamilah baru menjawab, pikirlah baru berkata, dengarkan baru menilai, bejerja dulu lalu berharap.

Iya. Semua adalah katanya.

Tidakkah kita menyadari bahwa keberadaan seseorang ternyata dapat dihidupkan oleh seseorang yang belajar padanya?

Mungkin semasa hidupnya socrates tidak benar-benar sedang mengajarinya, tapi dia pasti sedang melakukan keutamaannya. Yaitu berbijaksana. Kebajikan.

Tidakkah kita sadar bahwa kebajikanlah yang kemudian membuat orang lain belajar padanya?

Lalu tiba-tiba ia mengakhiri hidup dengan meminum racun atas tuduhan merusak generasi muda.
Perbedaan dan pembaharuan memang selalu sulit diterima banyak orang.

Tidakkah kita sadar jika saja ia memang perusak, tentulah ia tidak perlu meminum racun itu atas pertanggungjawabannya terhadap suatu perjanjian peradilan.

Dan pada akhirnya hanya kematianlah yang kemudian membuktikan pencariannya. Menjadi jawaban dari pertanyaan “apa itu bijaksana?” Hanya untuk orang-orang yang bukan dirinya, yang kemudian ditinggalkannya.

Jika kamu memimpikan dirimu menjadi seorang bijaksana, sampai kapanpun kamu tidak akan merasa telah mendapatkannya, karena semakin kamu menjadi seorang bijaksana, semakin kamu tak merasa bijaksana ada padamu.

Salamku kepada manusia dimasa lalu. Socrates.

Kamu adalah katanya yang kemudian membuat aku belajar tanpa berkesudahan untuk menjadi bijaksana.

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-26 “selamat!”

Tadi kita ketemu ya, ah tapi mana mungkin kamu tahu. Tidak tanggung-tanggung kamu datang menyisakan rasa yang bahkan sudah begitu lama aku tak rasa. Ah apa jantung juga punya ingatan? Sehingga yang lalu bisa menyeruak tiba-tiba saat kamu yang nyata datang dengan tiba-tiba juga?

Jangan salah mengira, perasaan itu adalah perasaan bahagia saat kita sama-sama menertawakan banyak lucon tak terduga, yang tiba-tiba tak lagi aku rasa dalam kurun waktu cukup panjang.
Jangan juga salah mengira, lalu beranggapan bahwa mungkin selama ini aku hanya sedang dibuai tipu daya rasa oleh rentang jarak yang kemudian membuat jeda sebatas lupa. Bukan hilang.

Rupanya, memang dia yang selalu paling tahu. Iya. Mimpi. Dia selalu paling tahu.
Kamu datang dengan tiba-tiba dalam sekerjap mata yang memejam dibuai kelelahan.
Kamu datang dengan tiba-tiba melalui degup jantungku yang naik turun saat melihat surat undangan.

Tapi tidak. Sungguh. Kamu jangan salah mengira. Aku hanya terbiasa hidup tanpa kabar ataupun hal-hal berbau kamu. Sehingga saat ada kamu, dan dengan tiba-tiba pula, secara tidak sadar mimpiku dikendalikan sesuatu yang tidak bisa aku paham. Dadaku dipenuhi degup emosi yang meluap. Sejenis kehilangan. Tapi sungguh. Jangan salah mengira.

Mungkin karena ini sesuatu yang baru dan sedikit tidak aku sangka. Bawah sadarku sedikit dihidupkan, rasaku digugah, dan karena pertemuan kita melalui mimpi semua terasa lebih khidmat.

Aku benar-benar kehilangan.
Kamu yang tertawa lepas tanpa ditahan saat berpapasan.
Kamu yang menyapa santai ketika saling pandang,
Kamu yang kadang jail dan tak peduli bagaimana aku beranggapan.
Kamu yang 100 % kamu dan tidak pernah menyembunyikan sisi kamu yang lain.
Kamu yang aku kenal jauh sebelum kita punya ikatan apa-apa.

Sungguh. Kamu tidak perlu salah mengira. Karena bisa jadi, aku adalah salah satu orang yang harap dan do’anya cukup besar untuk kebahagianmu dengan perempuanmu.

Sungguh! Aku ikut berbahagia karenanya.

Selamat.

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-25 “Manusia-manusia Kesayangan”

Aku dibangunkan oleh getaran dibawah bantal, masih dalam setengah sadar, secercah cahaya masuk melalui celah jendela.
Aku terkesiap menatap angka yang ditunjuk jarum jam bergerak. Sudah jam 7 pagi. Hari senin di kampung halaman. Sementara jam 10 aku harus sudah ada di Jakarta.

Ini cukup membuat adrenalin dalam tubuh bergerak naik turun. Sementara rindu akan jenaka, keluh, pengaduan dalam obrolan dari manusia-manusia kesayangan tidak sempat terbayar tuntas. Ah rasanya begitu berat berada pada menit-menit terakhir untuk segera mempersilahkan datang pada rindu yang lain, berikutnya.

Sekelebat bentuk-bentuk wajah bergantian meruang memenuhi isi kepala.

Terbahak sekaligus meringis saat terjatuh dari ayunan, berkelakar sambil kelelahan karena berlarian, bersama tiga laki-laki bertubuh mungil, tengil, jail pula. Ah pinyar sekali kamu semua membuat kenangan.

berteriak menasihati plus jengkel karena tidak didengarkan, melerai perkelahian, hal-hal yang memusingkan itu selalu dapat membuat aku ingin kembali.

Belum sampai 3 jam, 90 menit kemudian ternyata aku sudah rindu. Dalam bis diperjalanan menuju kampung rambutan pikiranku sudah menerawang angka-angka pada tanggalan bulan depan.

Kapan kira-kira waktu mengizinkanku  kembali bersama kalian, manusia-manusia kesayangan?

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-22 “Namanya Morrie Schwartz”

Hai, pria tangguh.
Senang aku memanggilmu dengan sebutan ini, sebab kamu berhasil menepati janji untuk berada pada level yang lebih baik.
O ya.. mungkin esok aku jadi pulang. Menemuimu juga untuk menepati janji.
Kamu tahu?
Siang ini, Aku baru saja selesai membaca buku. Buku yang ketika aku membacanya, tak henti-henti memaparkan wajahmu dipikiranku.
Aku disadarkan banyak hal dari sana. ya, disadarkan. Karena sesungguhnya kita tahu jawabannya.
Aku juga ingin kamu mengingatnya, tidak semua orang belajar dari cara yang sama, jadi aku hanya ingin membagikan apa yang aku dapat dari itu, padamu lewat surat ini. Sidikit saja.

Seperti juga Mitch Albom, bagiku dia adalah Mahaguru yang luarbiasa, yang memberi nafas kemenangan bahkan dalam kekalahannya. Namanya Morrie Schwartz, seorang pria bijaksana yang seolah tak lagi punya privasi Semenjak  Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) bertamu pada tubuhnya dengan tidak sopan. Ya. Itu pikirku dan mungkin juga pikiran banyak orang. Nyatanya bagi dia justru itu keberuntungan. Keberuntungan yang dipandang menyakitkan.

Dia telah mengagendakan sisa hidupnya, untuk belajar dari lambat dan perlahannya proses kematian. Proses yang sesungguhnya sedang dijalani semua orang. Dan aku ikut belajar darinya mengikuti ajakannya. Melalui buku itu.

Upacara pemakaman telah ia lakukan sebelum ia dikuburkan, sebab ia hanya ingin tahu seberapa banyak cintanya meluruh diantara jiwa yang akan tinggalkan. Lalu bagaimana cinta itu menyeruak kembali membahagiakan. Dia dengarkan apa yang ingin dipesankan sanak saudaranya, yang barangkali tidak akan sempat dia dengar jika vonis dokter itu tak pernah sampai padanya. Dalam hal ini aku hanya ingin kita sama-sama menyadari bahwa waktu dimana kita bisa memberi dan merasa cinta adalah hal yang akan membuat bahagia.

Ada sedikit yang mengingatkan aku terhadapmu. Pria tangguh.
acap kali kamu mengajak diskusi banyak hal, dan mempertanyakan sesuatu yang kadang tak bisa aku jawab.

Sama sepertimu. Pemikiran-pemikiran Morrie bermunculan seiring lama hitungan satu nafasnya berkurang terus-menerus, melakukan segala seperti pada kebiasaannya. Melakukan penerimaan atas apapun yang sanggup dia kerjakan dan apapun yang tak sanggup dikerjakan. Ya seperti kamu.

Dan ada hal yang luar biasa yang aku pelajari darinya.
Prinsip dasarnya ‘kematian bukan sesuatu yang membuat manusia berkecil hati’
Kematian adalah kepastian. Dan kehidupan saat ini hanya sekedar penundaan kematian itu sendiri, penundaan dalam waktu yang mungkin 15 tahun, 10 tahun, 5 tahun, atau mungkin 2 detik dari sekarang. Dan itu hukum bagi semua orang. Tanpa kecuali.

Kita percaya bahwa segala yang hidup akan mati, tapi kita lebih banyak menyangka bahwa tak mungkin hidup kita berakhir dalam waktu dekat. Yang menjadi pembeda adalah apakah manusia itu dapat memperkirakan atau tidak. Tapi seharusnya kita memberlakukan hidup dengan benar tak peduli kita dapat atau tidak. Kematian hanya salah satu yang patut disedihkan, tapi hidup tanpa kebahagiaan jauh lebih menyedihkan.

Pria tangguh,
Kita sudah didoktrin bahwa banyak uang itu akan lebih mudah, bahwa memiliki mobil mewah, rumah besar akan lebih nyaman dan banyak lagi hal-hal yang memicu banyak orang untuk mencari kesuksesannya. Sebelum ajal mendekat. Rupanya itu hanya sesaat dan membuatnya tidak pernah puas.

Doktrin yang berulang itu telah mengakar dan membudaya. Sementara kita tidak cukup tangguh untuk mengatakan “Jangan diteruskan!” dan tidak cukup berani menciptakan budaya kita sendiri. Sesungguhnya diantara mereka adalah orang-orang yang lebih banyak menyesal mengapa serba tidak disempatkan.
Pada dasarnya kita tetaplah hanya perlu mensyukuri apa yang ada.

Hai, pria tangguh,
Kamu selalu punya waktu dan alasan untuk melakukan banyak  hal, untuk memberi dan membiarkan cinta itu datang membahagiakan. menangislah bila itu perlu tapi setelah itu pusatkan perhatianmu pada banyak hal yang masih baik dalam hidupmu. Kepada orang-orang yang datang bukan untuk mengasihanimu tapi untuk mendengarmu, juga kepada kisah-kisah yang akan kamu dengar dari mereka.

Jadi untukmu,
Tetaplah jadi mahaguruku.
Sebab pengaruh seorang guru bersifat kekal, ia tidak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir.
Hayati dunia secara penuh. Jangan menghentikan apapun karena jika tidak demikian maka dia tidak hanya membunuhtubuhmu tapi juga jiwamu.

Kamu tahu?
Begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, berarti kita belajar tentang bagaimana kita harus hidup. Ini berlaku untuk semua orang. Sungguh, tak ada yang mesti kamu khawatirkan. Semuanya akan baik-baik saja. Aku bersamamu.

Harti Katresna.

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-21 “Surat Balasan”

Membaca surat darimu, aku tersadarkan rupanya sudah 21 hari mengikuti #30HariMenulisSuratCinta, sangat menyenangkan, bisa menebar cinta kepada banyak orang (ataupun hal) yang mungkin jika tidak mengikuti ini, tidak selalu aku dapat diingatkan.

Ngomong-ngomong mengenai undanganmu mengikuti gathering #30HariMenulisSuratCinta, aku tertarik untuk ikut. Tapi untuk info saja, sebenarnya lokasinya cukup jauh untukku, jadi agak sedikit menguras waktu dan tenaga untuk kesana. Kapan-kapan tak masalah dong kalau pertemuannya di Jakarta saja (gantian hihii..), kan cinta bertebaran tidak hanya dibandung saja. Haha…

Tapi mengingat kembali momen itu, pastilah akan menyenangkan. Aku benar-benar ingin berjumpa denganmu, dengan para tukang pos, dan banyak para pecinta lainnya, jadi sudah aku putuskan tanggal 1 Maret nanti, aku akan usahakan ikut.

Mengenai apa yang akan aku lakukan disana? Hm… sebenarnya aku sangat pemalu, jadi agak sedikit bingung gimana caranya aku berpartisipasi dengan cara yang tidak membosankan, tapi aku tak ingin kehilangan kesempatan untuk belajar banyak hal dari kalian. Mungkin kalo sekedar baca salah satu surat yang aku buat, aku bersedia. Selebihnya aku akan menikmati detil hal yang pasti menyenangkan disana. Bersama kalian.

O ya.. aku juga sangat penasaran ingin bertemu langsung dengan orang yang selama ini mengantarkan suratku tanpa lelah biarpun dengan caranya yang tidak mati-matian.haha.. Semoga bisa ketemu kak @adimasnuel ya, biarpun surat ini aku tujukan untuk membalas kiriman surat dari bosse, tapi tentu melalui kak @adimasnuel. jadi, aku mau sedikit menyapa deh, biar nanti kalo ketemu gk gerogi haha…

Hai kak, nanti kita ketemu jangan sombong ya, aku boleh minta foto bareng nanti ya. Salam kenal juga. Belakangan tanpa sepengetahuanmu, aku sering baca tulisan-tulisanmu, sangat bagus! entah kapan aku berada di level itu, semoga aku bisa belajar banyak dari kamu kak. Sampai ketemu nanti. (Udah gitu aja nyapanya. Hihi..)

Dan buat bosse makasi ya untuk semuanya. Aku tak sabar bertemu dengan kalian semua 1 maret 2015 nanti. Pasti asik. Yuhuuuu…

Salam.
Harti Katresna.

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-20 “diangkot mah..”

Saat menulis ini, aku sedang duduk pada bangku panjang sebelah kanan angkot merah bernomor 08 mah,.. jari-jariku menyusun huruf membentuk kata pada layar bercahaya. Tapi telingaku tak bisa menolak diri dari obrolan akrab seorang anak dan ibunya di bangku seberang.

Pembicaraan tentang pelampung. Pelampung dengan warna biru, kuning, merah yang sedang ditimbang-timbang untuk dibeli sianak kesayangan.
Kata ibu itu
“jangan  biru sayang nanti kalo tenggelem gk keliatan”
aku sedikit tersenyum tipis dibuatnya, si ibu gk kalah polos sama anaknya. Pikirku.

Tiba-tiba aku ingat mama, mamaku yang gk pernah beliin aku pelampung. Hehe.. Jangankan pelampung, untuk berenang saja aku mesti ngumpet-ngumpet biar tidak dikejar-kejar mama. Itupun berenang di sungai ya mah,.. dengan serangga liar air sungai, aku lebih mengenalnya dengan sebutan ‘Engkang-engkang’. Ya, masa-masa itu, masa dimana aku hanya memiliki sepersekian dari keseluruhan urat maluku.

Aku kangen mah, kangen waktu suaramu menggema memenuhi ruangan melerai pertengkaran kami, anak-anakmu. Bagaimana pusingnya kamu memisahkan kami yang berkelahi cakar-cakaran untuk memperebutkan satu buah gamebot. Lalu dengan sedikit emosi kamu menyembunyikannya di atas langit-langit rumah. Beberapakali pengulangan pertengkaran, tak membuatmu memutuskan menghancurkan benda itu. Meskipun pada akhirnya hancur juga, mungkin itu sudah waktunya untuk kami diam ya mah,.. Itulah mama. Mamaku yang beda. Yang aku bangga.

Sambil sesekali menatap kaca, memerhatikan jalan yang begitu panjang, Aku kangen mah, kangen jalanan Purwakarta, jalanan yang sempat mengoyak perutku lalu dengan tidak sopan mengotori celanamu, jalanan yang menguarkan udara dingin sehingga aku dengan hangat diapit diantara tubuhmu dan tubuh bapak. Seperti saat kamu mengantarkanku menuju rumah guru untuk mengikuti perlombaan alakadar itu.

Aku kangen mama, yang ajari aku baca puisi dengan dalamnya penghayatan, dengan intonasi yang pas, dengan suara yang tidak harus berteriak, tapi sampai ke hati semua orang, aku kangen mama yang membacakanku buku pengetahuan sebab aku lamban mengingat jika tidak mendengar.

Aku kangen mah, kangen kamu buatkan baju kembaran untuk hari raya idul fitri yang datang sekali dalam setahun. yang super kreatif dan beda dari yang lainnya. Lalu membuat iri semua orang dan minta kamu buatkan pula. Kamu pernah buatkan aku bando, blezer, rompi, kerudung dengan desain yang belum ada di jamannya dulu. Bahkan mama pernah bikin baju yang desainnya lolos juara satu di perlombaan kakak ya mah,… mama hebat!
Itu lah mama. Mamaku yang aku bangga.

Aku kangen mah, kangen masa-masa itu, berkumpul diruang dengan alas papan, memutar-mutar kaset dengan ujung pensil untuk meluruskan pitanya yang menggulung, lalu memutar lagu sijago mogok keras-Keras.
Aku kangen saat kamu semua berbarengan menimpaliku menyanyi dengan kalimat “asik, asik, asik” di sela lantunan lagu Dudidam Eno lerian.

Aku mendadak ingin pulangmah, pulang yang tidak harus membuat aku kembali meninggalkan. Walaupun sekarang mama lebih banyak menjadi pendengar. Marahlah sesekali mah, marah karena aku jarang pulang.

Aku kangen mah tapi seberapapun panjangnya surat ini. aku tetap tidak bisa mengatakannya dengan cukup, Angkotnya juga sudah hampir sampai di lokasi tempat aku biasa dia turunkan. Sebentar lagi aku akan bilang stop sebagai penanda perjalanan selesai.
Jadi, sudah dulu ya mah.

Aku kangen berat mah, aku tahu,
Segera aku harus pulang.

Love.
Yang selalu dihatimu mah.. ( iya kan? 🙂 )