Namaku Diana.

Dia memelukku begitu hangat, lalu memutarkan lagu yang begitu meneduhkan saat didengar.

” Ibuku sayang masih terus berjalan,  Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah,
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu”

“Aku suka lagu ini ibu, penyanyinya sangat legendaris. Judulnya ibu” ucapnya dengan tersenyum.

Sambil dirinya menunjukan satu – satu potret pada album foto berwarna merah tua, kuikuti jemari itu kemana menunjuk, pada lembaran itu kutatapi sosok anak perempuan yang begitu cantik dengan gaun putih sedang meniup lilin, angka sembilan berdiri tepat diatas tulisan dalam susunan huruf ‘happy birthday Diana’ entah lah sudah sejak lama aku tidak lagi dapat membacanya. Membaca tulisan yang tertera pada tumpukan kue berbalut krim itu. Wajahnya nampak ceria sekali. Itu pastilah anakku. Yang sekarang duduk bersamaku.

Lembar demi lembar aku susuri, kudapati sosok perempuan dengan wajah begitu tulus mencium bayi mungil yang berada di pangkuannya, Oh aku sudah punya cucu, pikirku. Mungkin karena sudah begitu tua otakku tak mampu mengingat dengan benar dan jelas, bayi itu seorang anak perempuan dengan lesung pipit di kedua pipinya, ah lucu sekali.

Aku semakin terbawa suasana. Lembar-lembar berikutnya adalah sosok mungil anak perempuan dengan binar di kedua bola matanya, begitu menggemaskan. Tak ada potret lain selain dia dan ibunya. Tak ada juga sosok laki-laki yang aku ingin tahu wajahnya. Menantuku, dimana dia? Semakin aku menatap wajah anak perempuan itu semakin ingin aku memeluknya, aku nikmati memandangi potret-potret itu dengan penuh. Tiba-tiba hatiku dipenuhi sesak, potret-potret perempuan mungil itu begitu ingin aku rengkuh.
Tiba-tiba semua terasa begitu hening dan mencekam, putaran lagu itu kini lebih seperti nyanyian kepiluan.

Pipiku membasah,Kupeluk album foto itu dengan sekuat tenaga. Anak perempuanku yang sejak tadi duduk di sampingku ikut menangis memelukku sama eratnya. Lalu tiba-tiba ia merenggutnya, merenggut album foto dan keseluruhan potret cucuku. Aku memintanya lagi dengan paksa.tapi dia hanya menangis. Sambil mengusap kedua air mataku dia memelukku.

“Ibu dengarkan aku, aku ada disini bersamamu, aku mencintaimu”
Ucapnya. Hening sesaat.

Aku hanya diam, sementara seseorang mengucap salam seraya mengetuk pintu, dia menghampiri kami. Dengan air putih dan beberapa pil ditatakan yang dibawanya.

Aku memandanginya. Isakku berhenti sesaat. Lagu itu terdengar lagi.

Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah,
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu”

Anak perempuanku memandangiku lagi, lalu dia kembali mengambil album foto itu, sambil menunjuk potret perempuan yang mencium dan memandangi bayi itu.

“Ibu coba lihat, Ini adalah ibu dan aku” ucapnya.

Aku masih diam dan tidak mengerti. sementara perempuan dengan stelan putih itu semakin mendekat dan berbicara pada anakku.

“Waktunya Ibu Diana minum obat bu” katanya.

Diana? Namaku Diana? Oh ya aku ingat.

Lagu itu tidak lagi aku dengar.

Seketika aku menjerit menangis, rasanya nyeri membuat sesak dadaku. Lalu aku teringat semua kejadian keji itu. Saat sahabat-sahabatku meneriakan nama itu. Diana. Tapi tak lagi bisa berbuat apa-apa. Laki-laki hidung belang tidak tau diri merenggut segalanya dariku.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s