Acara sakral

Hai Kirana,tadi pagi ketika aku berkaca  dicermin, rasanya aku nampak tampan sekali, menggunakan tuksedo berwarna hitam yang kau pilihkan. Sebuket bunga sudah kusiapkan, begitu ingin aku menatapmu pada acara sakral hari ini.

Logikaku bahkan belum benar-benar sadar, berulangkali meyakinkan, aku masih belum percaya. Waktu mendadak terasa singkat, hanya enam bulan aku mengenalmu lalu tiba-tiba sebulan yang lalu aku melamarmu.

Aku ingat betul bagaimana lucunya kamu menanggapi pertanyaanku, ditengah lantunan lagu ‘Water under Bridges-Grogory Porter ft Laura mvula’ mulutmu yang asik berdendang tiba-tiba diam. Sementara aku dengan lembut menurunkan headset yang sudah beberapa menit diam ditelingamu, kamu masih diam. Tak sabar rasanya hari itu menunggu jawabanmu. Sambil sedikit menggodamu, akhirnya aku menyemat headset itu dikupingku lirik “Do you remember, the days we used to spend? Memories so strong..” yang kudengar. Beberapa menit kemudian, dengan manja kepalan tanganmu memukul lengan kiriku,berulang kali. Tidak bisa aku jelaskan bagaimana bahagianya mendengar jawaban “ya, aku mau” yang kau ucap setelah melepaskan headset itu dengan kasar.

Setelah itu kamu nampak begitu sempurna dimataku, dengan caramu sibuk sendiri melakukan ini dan itu, mengubah jadwa ini dan itu, kamu mengatur segalanya sedemikian semangat, bahkan meski aku mengingatkanmu “jangan terlalu kelelahan..!” Tapi akhirnya aku selalu kalah dan menyerah. Kamu selalu beralasan bahwa pernikahan kita hanya sekali seumur hidup dan kamu ingin itu membahagiakan. Ah kamu tak tahu, bahagianya aku mendengar itu.

Hari ini aku disini untuk menatapmu, bersama ratusan orang yang mencintaimu dengan benak penuh haru, rindu kali ini benar-benar tidak bisa ditawar. Kamu begitu cantik dalam balutan yang kau kenakan, jauh lebih cantik dari yang aku bayangkan, diantara wajahmu yang nampak tenang, tidakkah kamu merasakan rindu yang sama beratnya?

Aku sangat rindu kirana, tadi pagi aku begitu tampan, entah sekarang seperti apa, rindu ini begitu menyakitkan dan belum pula aku temu obat penawarnya. Dan kamu masih saja tersenyum dengan tenang disana, dikotak panjang itu. Dipeti mati itu.

Mengapa kamu harus mengantar undangan pertemuan, jika akhirnya kamu harus meninggalkan kami dikecelakaan itu? dan tanpa menjelaskan lebih dulu bagaimana cara aku menawar rindu. Waktu benar-benar terlalu singkat bagiku.

Lagu itu menggema lagi.
“Do you remember
The days we used to spend?
Memories so strong,
It keeps me from moving on…
If i could go back,
I’d take our worst days.
Even our worst days are better
Than loneliness…”
Water Under Bridges – Grogory Porter ft Laura Mvula

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in 1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Advertisements

5 thoughts on “Acara sakral

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s